Featured Posts

Chabloger.com ►►Selamat Datang Di Chabloger.com Salam Persahabatan Terimakasih Telah Berkunjung Disini Maafkan Kami Bila Banyak Kesalahan DiChabloger.com

Minggu, 21 Juli 2013

TERJEBAK DALAM KE IKHLASAN

Saya baru memahami makna pesan bahwa yang membuat kita masuk surga bukanlah amal-amal kita. Walau sedekah kita berlimpah, perbuatan baik kita seluas langit dan bumi, itu semua tiada arti di mata Allah SWT bila tanpa keikhlasan. Riuh tepuk tangan, pujian dan penghargaan karena banyaknya kebaikan atau amal yang kita lakukan, boleh jadi itu tipuan yang menyesatkan.

Amal tanpa keikhlasan ibarat manusia tanpa nyawa. Ikhlas itu ruhnya perbuatan baik. Sungguh suatu kebangkrutan bila kita berbuat baik tetapi tidak diapresiasi oleh-Nya. Pastikanlah semua kebaikan yang kita lakukan disertai ruh di dalamnya, yaitu keikhlasan. Tanpa keikhlasan sebaiknya tak perlu dilakukan karena itu membuang-buang waktu dan melelahkan.

Ikhlas harus selalu dihadirkan dalam semua kegiatan, tetapi itu bukanlah hal yang mudah. Perlu latihan dan perlu diperjuangkan. Kita harus selalu khawatir bila tiada ikhlas dalam kebaikan yang kita lakukan. Bagaimana caranya latihan ikhlas?

Pertama, lakukanlah kebaikan secara rutin dan meningkat. Orang yang melakukan sesuatu pertama kali, secara manusiawi biasanya cenderung untuk dipamerkan. Misalnya, orang yang baru mulai bangun malam untuk tahajud biasanya akan segera membuat status di twiter “tahajud yok”. Atau, mereka yang tidak punya akun twitter, akan SMS teman-temannya: Bangun… bangun… bangun… Tahajud!”

Suatu aktivitas yang rutin dilakukan akan lebih mudah mendatangkan ikhlas. Tetapi apakah kebaikan yang rutin pasti ikhlas? Belum tentu, mengapa? sebab penyakit pamernya mungkin tidak ada tetapi sombongnya yang muncul. Boleh jadi di dalam hatinya ia berbisik, “Ah, saya yang sedekah rutin sepuluh juta tiap bulan diam saja, ini sedekah satu juta saja pamer di twiter.” Saat rasa sombong ini muncul, keikhlasan dalam amalpun akhirnya kabur.

Kedua, pastikan kebaikan yang tidak diketahui orang jauh lebih banyak. Untuk kepentingan mengajak kebaikan orang lain, terkadang kita memerlukan nama orang-orang yang terlibat perlu dicantumkan. Saat nama Anda diumumkan sebagai penyumbang kegiatan sebesar Rp 5 juta, maka pastikan sumbangan Anda yang tidak diketahui orang lebih dari Rp 5 juta.

Biasakanlah saat sendiri, sepi atau saat tak dikenal orang kita melakukan lebih banyak kebaikan dibandingkan saat diketahui banyak orang. Berbuatlah di daerah yang Anda tidak dikenal. Beribadahlah secara sungguh-sungguh saat sendiri di kamar. Berbuat baiklah dimanapun dan kapanpun, tanpa harus menunggu kesaksian dari orang-orang yang kita kenal.


Teruslah berlatih untuk ikhlas dan waspadalah. Sebab saat kita merasa lebih ikhlas dibandingkan yang lain, saat itu pula kita sudah tidak ikhlas. Mari kita terus berusaha agar selalu terjebak dalam ikhlas…

Berita Menajubkan di abat ini "PAUS MASUK ISLAM....??"

Walaupun, paling tidak hingga hari ini, berita Paus masuk Islam belum bisa dipastikan 100%, tapi magnet itu sangat kuat. Berita mundurnya Paus dan masuk Islamnya akan menjadi BERITA TERBESAR ABAD INI!! Yang jelas terjadi pada diri Paus sekarang adalah ia semakin bersimpati pada Islam, mulai meyakininya dan terus mempelajari serta menguatkan keyakinan barunya. Gejala ini sangat kuat dari apa yang terjadi selama ini. Pernyataan Paus bahwa “through prayer and reflection over the past years, I’ve realized that Allah is the one true God,” adalah sinyal yang sangat jelas bahwa ia sedang meyakini Tuhan yang hanya satu.
BILA pemimpin spiritual tertinggi atau imam tertinggi Kristen ini masuk Islam, apa artinya? Masih adakah yang masih bisa dipertahankan oleh Kristen untuk tetap bertahan sebagai sebuah agama? Kitab sucinya ada 4 versi (Lukas, Yohanes, Paulus dan Markus), ketuhanan Yesus diperdebatkan terus hingga kini (di Barat banyak menjadi penyebab orang Kristen masuk Islam), sudah jutaan orang Kristen sudah masuk Islam di berbagai negara dan ini terus akan bertambah. Yang mengguncangkan Vatikan, 35 orang Kardinal dan Uskup di Vatikan sudah masuk Islam. Kini, pemimpin spiritual tertinggi umat Kristiani di Vatikan mulai bersimpati pada Islam, atau mungkin sudah sudah masuk Islam diam-diam, tapi dirahasiakan, karena akan sangat menggemparkan!!
Hingga kini belum ada yang bisa memastikan, kita hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya!!

MATI KESUNGGUHAN BERITA: PAUS BENEDIKTUS IXVI MENGUNDURKAN DIRI KEPAUSAN UNTUK MEMELUK ISLAM

popeTAHTA SUCI - Dalam siaran pers yang mengejutkan pada konferensi Minggu, Paus Benediktus XVI mengungkapkan kepada dunia bahwa ia akan mundur dari jabatan tertinggi Gereja Katolik. "Melalui doa dan refleksi selama beberapa tahun terakhir," orang suci di dunia dimulai, "aku menyadari bahwa Allah adalah Allah yang benar."

Di tengah derap jendela kamera dan reporter menderu, Paus Benediktus sabar menjawab pertanyaan, mengutip cerita rakyat tradisional Muslim serta ayat-ayat dari Al-Qur'an untuk menjelaskan keputusannya. Sesinya terputus hanya sekali, ketika ia berputar Tenggara untuk menghadapi Mekkah, membungkuk ke tanah, dan membacakan Ashar, salah satu dari lima shalat pusat keyakinan Muslim.

Dengan mengejutkan pembalikan datang sebagai kejutan bagi banyak orang dengan kebijakan Paus tentang Islam. "Tunjukkan kepadaku apa yang dibawa Muhammad baru dan di sana Anda akan menemukan hal-hal yang jahat dan tidak manusiawi, seperti perintahnya untuk menyebarkan dengan pedang iman ia berkhotbah," Uskup Vatikan terkenal mengatakan Islam dalam bukunya 2006 kuliah Iman , Alasan dan Universitas-Kenangan dan Reflections.

Ketika ditanya tentang kutipan, Paus Benediktus mendesah dengan penyesalan periang dan tertawa diam-diam pada dirinya sendiri: "Ya saya sudah menyesal bahwa untuk beberapa waktu. Tapi aku masih muda dan naif ... saya melihat hal-hal yang lebih jelas sekarang. Selain itu, aku selalu agak menyukai pikiran memiliki pedang. The Cardinals adalah rasa sakit yang nyata yang satu itu. "

Ketika ditanya apakah ia akan kembali kepada namanya lahir, Paus Benediktus antusias sela. "Saya telah memutuskan untuk mengubah nama saya Sajjad Sayyid Ratzinger," Nya Ex-Kekudusan menjelaskan. "Aku menjaga nama saya murni karena alasan logistik, sehingga teman-teman Facebook saya dan pengikut Twitter tidak akan bingung."

Transisinya belum tanpa oposisi. Beberapa jam setelah konferensi pers, Fox khusus dan segmen Teman ditayangkan pada FoxNews, menampilkan gambar Paus photoshopped untuk menyertakan fitur stereotip Islam, termasuk: sorban di tempat nya mitra, kulit gelap, rambut hitam, dan huruf Arab mengeja dukungan dari Barack Hussein Obama tato di dadanya. Di bawah gambar, panel membahas kemungkinan keterlibatan Paus Benediktus XVI, 85, pada 9/11. Judul segmen, "The Heathen Kudus," terpampang di sudut kiri bawah layar.

Pagi ini, surat kabar nasional menampilkan sebuah editorial oleh Bill O'Reilly merinci paralel antara Paus "pengkhianatan Kristen Allah mencintai di mana-mana" dengan "pengkhianatan terhadap rakyat Amerika dan Konstitusi oleh Benedict Arnold, agenda liberal, dan radikal rombongan sayap kiri " Paus Yohanes II mencium Al-Qur’an yang diberikan oleh delegasi dari Irak saat mereka berkunjung ke Vatikan.(14/."source:http://deadseriousness.com/dead-seriousness-news-pope-benedict-xvi-resigns-papacy-converts-to-islam/)

Pope Resign and Becaome a Muslim? 
Paus Mengundurkan Diri dan menjadi Seorang Muslim?
Dunia terkejut atas pernyataan pengunduran diri Paus Benediktus XVI. Kepala Gereja Katolik Polandia, Uskup Wojciech Polak, mengatakan pengunduran diri Benediktus merupakan “kejutan besar bagi kita semua”. Kepala Gereja Anglikan mengatakan ia merasa “sedih”. Perdana Menteri Negara Bagian Bavaria (dimana Paus Benediktus lahir dengan nama Joseph Ratzinger pada 1927 di wilayah ini), Horst Seehofer, mengatakan keputusan itu pantas “dihormati meskipun saya secara pribadi sangat menyesal”.
Dalam pidatonya, Senin (11/02), Paus menyatakan bahwa: “Setelah berulang kali merenungkan keyakinan di depan Tuhan, saya sampai pada keputusan bahwa kekuatan saya, karena usia yang lanjut, tidak tepat lagi untuk melaksanakan secara memadai Pelayanan Santo Petrus.”
Ia menyatakan akan meninggalkan pelayanan kepausan mulai 28 Februari 2013 pada pukul 20.00, yang telah dipercayakan kepadanya melalui pemilihan oleh para Kardinal sejak 19 April 2005.
Paus juga mengucapkan terima kasih atas segala dukungan dalam pelayanannya dan juga meminta maaf atas semua kekurangannya. Selanjutnya ia menyatakan akan mendedikasikan kehidupannya untuk doa.
Ehm… Rasanya cukup menarik untuk mengetahui cara berdoanya Paus Benediktus XVI setelah bebas dari kepausan …

Beginikah ? Seperti seorang Muslim !?

Paus Benedictus XVII berdo’a menyerupai shalat bersama Imam Mustafa Cagriche di Masjid Biru, Turki (30/11/2006)
Yah, semoga saja Tuhan membuka jalan, apalagi sudah tidak lagi dibebani oleh jabatan. Hanya tinggal kemauan untuk menemukan kebenaran sejati, bukan kebenaran persepsi. Dan tentu saja beliau semakin banyak waktu untuk … membaca, merenung, mempelajari Al-Quran
Paus Benediktus XVI menerima salinan Al-Qur’an dalam acara inter-faith meeting di John Paul II Cultural Center, Washington (17/04/2008)
Baroness Warsi, UK’s first female Muslim minister, bertemu Paus Benediktus XVI dalam kunjungan bersejarah menteri Inggris ke Vatikan
Sesuai dengan tema dialog antar agama, ia juga memberikan salinan Al-Qur’an yang diterjemahkan oleh seorang Yahudi Eropa Timur yang masuk Islam dan membantu menulis konstitusi Pakistan.
Paus Benediktus XVI memeriksa halaman sebuah Al-Qur’an kuno bersama Sheikh Nasser Al-Mohammed.

bukan hanya seperti ini

Paus Yohanes II mencium Al-Qur’an yang diberikan oleh delegasi dari Irak saat mereka berkunjung ke Vatikan (14/05/1999)

(http://ishamerdeka.blogspot.com)

Aneh Tapi Nyata Kisah Pendeta Masuk Islam


Mungkin kisah ini terasa sangat aneh bagi mereka yang belum pernah bertemu dengan orangnya atau langsung melihat dan mendengar penuturannya. Kisah yang mungkin hanya terjadi dalam cerita fiktif, namun menjadi kenyataan. Hal itu tergambar dengan kata-kata yang diucapkan oleh si pemilik kisah yang sedang duduk di hadapanku mengisahkan tentang dirinya. Untuk mengetahui kisahnya lebih lanjut dan mengetahui kejadian-kejadian yang menarik secara komplit, biarkan aku menemanimu untuk bersama-sama menatap ke arah Johannesburg, kota bintang emas nan kaya di negara Afrika Selatan di mana aku pernah bertugas sebagai pimpinan cabang kantor Rabithah al-’Alam al-Islami di sana.
Pada tahun 1996, di sebuah negara yang sedang mengalami musim dingin, di siang hari yang mendung, diiringi hembusan angin dingin yang menusuk tulang, aku menunggu seseorang yang berjanji akan menemuiku. Istriku sudah mempersiapkan santapan siang untuk menjamu sang tamu yang terhormat. Orang yang aku tunggu dulunya adalah seorang yang mempunyai hubungan erat dengan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela. Ia seorang misionaris penyebar dan pendakwah agama Nasrani. Ia seorang pendeta, namanya ‘Sily.’ Aku dapat bertemu dengannya melalui perantaraan sekretaris kantor Rabithah yang bernama Abdul Khaliq Matir, di mana ia mengabarkan kepada-ku bahwa seorang pendeta ingin datang ke kantor Rabithah hendak membicarakan perkara penting.

Tepat pada waktu yang telah dijanjikan, pendeta tersebut datang bersama temannya yang bernama Sulaiman. Sulaiman adalah salah seorang anggota sebuah sasana tinju setelah ia memeluk Islam, selepas bertanding dengan seorang petinju muslim terkenal, Muhammad Ali. Aku menyambut keda-tangan mereka di kantorku dengan perasaan yang sangat gembira. Sily seorang yang berpostur tubuh pendek, berkulit sangat hitam dan mudah tersenyum. Ia duduk di depanku dan berbicara denganku dengan lemah lembut. Aku katakan, “Saudara Sily bolehkah kami mendengar kisah keislamanmu?” ia tersenyum dan berkata, “Ya, tentu saja boleh.”

Pembaca yang mulia, dengar dan perhatikan apa yang telah ia ceritakan kepadaku, kemudian setelah itu, silahkan beri penilaian.!

Sily berkata, “Dulu aku seorang pendeta yang sangat militan. Aku berkhidmat untuk gereja dengan segala kesungguhan. Tidak hanya sampai di situ, aku juga salah seorang aktifis kristenisasi senior di Afrika Selatan. Karena aktifitasku yang besar maka Vatikan memilihku untuk menjalankan program kristenisasi yang mereka subsidi. Aku mengambil dana Vatikan yang sampai kepadaku untuk menjalankan program tersebut. Aku mempergunakan segala cara untuk mencapai targetku. Aku melakukan berbagai kunjungan rutin ke madrasah-madrasah, sekolah-sekolah yang terletak di kampung dan di daerah pedalaman. Aku memberikan dana tersebut dalam bentuk sumbangan, pemberian, sedekah dan hadiah agar dapat mencapai targetku yaitu memasukkan masyarakat ke dalam agama Kristen. Gereja melimpahkan dana tersebut kepadaku sehingga aku menjadi seorang hartawan, mempunyai rumah mewah, mobil dan gaji yang tinggi. Posisiku melejit di antara pendeta-pendeta lainnya.

Pada suatu hari, aku pergi ke pusat pasar di kotaku untuk membeli beberapa hadiah. Di tempat itulah bermula sebuah perubahan!

Di pasar itu aku bertemu dengan seseorang yang memakai kopiah. Ia pedagang berbagai hadiah. Waktu itu aku mengenakan pakaian jubah pendeta berwarna putih yang merupakan ciri khas kami. Aku mulai menawar harga yang disebutkan si penjual. Dari sini aku mengetahui bahwa ia seorang muslim. Kami menyebutkan agama Islam yang ada di Afrika selatan dengan sebutan ‘agama orang Arab.’ Kami tidak menyebutnya dengan sebutan Islam. Aku pun membeli berbagai hadiah yang aku inginkan. Sulit bagi kami menjerat orang-orang yang lurus dan mereka yang konsiten dengan agamanya, sebagaimana yang telah berhasil kami tipu dan kami kristenkan dari kalangan orang-orang Islam yang miskin di Afrika Selatan.

Si penjual muslim itu bertanya kepadaku, “Bukankah anda seorang pendeta?” Aku jawab, “Benar.” Lantas ia bertanya kepadaku, “Siapa Tuhanmu?” Aku katakan, “Al-Masih.” Ia kembali berkata, “Aku menantangmu, coba datangkan satu ayat di dalam Injil yang menyebutkan bahwa al-Masih AS berkata, ‘Aku adalah Allah atau aku anak Allah. Maka sembahlah aku’.” Ucapan muslim tersebut bagaikan petir yang menyambar kepalaku. Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Aku berusaha membuka-buka kembali catatanku dan mencarinya di dalam kitab-kitab Injil dan kitab Kristen lainnya untuk menemukan jawaban yang jelas terhadap pertanyaan lelaki tersebut. Namun aku tidak menemukannya. Tidak ada satu ayat pun yang men-ceritakan bahwa al-Masih berkata bahwa ia adalah Allah atau anak Allah. Lelaki itu telah menjatuhkan mentalku dan menyulitkanku. Aku ditimpa sebuah bencana yang membuat dadaku sempit. Bagaimana mungkin pertanyaan seperti ini tidak pernah terlintas olehku? Lalu aku tinggalkan lelaki itu sambil menundukkan wajah. Ketika itu aku sadar bahwa aku telah berjalan jauh tanpa arah. Aku terus berusaha mencari ayat-ayat seperti ini, walau bagaimanapun rumitnya. Namun aku tetap tidak mampu, aku telah kalah.

Aku pergi ke Dewan Gereja dan meminta kepada para anggota dewan agar berkumpul. Mereka menyepakatinya. Pada pertemuan tersebut aku mengabarkan kepada mereka tentang apa yang telah aku dengar. Tetapi mereka malah menyerangku dengan ucapan, “Kamu telah ditipu orang Arab. Ia hanya ingin meyesatkanmu dan memasukkan kamu ke dalam agama orang Arab.” Aku katakan, “Kalau begitu, coba beri jawabannya!” Mereka membantah pertanyaan seperti itu namun tak seorang pun yang mampu memberikan jawaban.

Pada hari minggu, aku harus memberikan pidato dan pelajaranku di gereja. Aku berdiri di depan orang banyak untuk memberikan wejangan. Namun aku tidak sanggup melakukannya. Sementara para hadirin merasa aneh, karena aku berdiri di hadapan mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aku kembali masuk ke dalam gereja dan meminta kepada temanku agar ia menggantikan tempatku. Aku katakan bahwa aku sedang sakit. Padahal jiwaku hancur luluh.

Aku pulang ke rumah dalam keadaan bingung dan cemas. Lalu aku masuk dan duduk di sebuah ruangan kecil. Sambil menangis aku menengadahkan pandanganku ke langit seraya berdoa. Namun kepada siapa aku berdoa. Kemudian aku berdoa kepada Dzat yang aku yakini bahwa Dia adalah Allah Sang Maha Pencipta, “Ya Tuhanku… Wahai Dzat yang telah men-ciptakanku… sungguh telah tertutup semua pintu di hadapanku kecuali pintuMu… Janganlah Engkau halangi aku mengetahui kebenaran… manakah yang hak dan di manakah kebenaran? Ya Tuhanku… jangan Engkau biarkan aku dalam kebimbangan… tunjukkan kepadaku jalan yang hak dan bimbing aku ke jalan yang benar…” lantas akupun tertidur.

Di dalam tidur, aku melihat diriku sedang berada di sebuah ruangan yang sangat luas. Tidak ada seorang pun di dalamnya kecuali diriku. Tiba-tiba di tengah ruangan tersebut muncul seorang lelaki. Wajah orang itu tidak begitu jelas karena kilauan cahaya yang terpancar darinya dan dari sekelilingnya. Namun aku yakin bahwa cahaya tersebut muncul dari orang tersebut. Lelaki itu memberi isyarat kepadaku dan memanggil, “Wahai Ibrahim!” Aku menoleh ingin mengetahui siapa Ibrahim, namun aku tidak menjumpai siapa pun di ruangan itu. Lelaki itu berkata, “Kamu Ibrahim… kamulah yang bernama Ibrahim. Bukankah engkau yang memohon petunjuk kepada Allah?” Aku jawab, “Benar.” Ia berkata, “Lihat ke sebelah kananmu!” Maka akupun menoleh ke kanan dan ternyata di sana ada sekelompok orang yang sedang memanggul barang-barang mereka dengan mengenakan pakaian putih dan bersorban putih. Ikutilah mereka agar engkau mengetahui kebenaran!” Lanjut lelaki itu.

Kemudian aku terbangun dari tidurku. Aku merasakan sebuah kegembiraan menyelimutiku. Namun aku belum juga memperoleh ketenangan ketika muncul pertanyaan, di mana gerangan kelompok yang aku lihat di dalam mimipiku itu berada.

Aku bertekad untuk melanjutkannya dengan berkelana mencari sebuah kebenaran, sebagaimana ciri-ciri yang telah diisyaratkan dalam mimpiku. Aku yakin ini semua merupakan petunjuk dari Allah SWT. Kemudian aku minta cuti kerja dan mulai melakukan perjalanan panjang yang memaksaku untuk berkeliling di beberapa kota mencari dan bertanya di mana orang-orang yang memakai pakaian dan sorban putih berada. Telah panjang perjalanan dan pencarianku. Setiap aku menjumpai kaum muslimin, mereka hanya memakai celana panjang dan kopiah. Hingga akhirnya aku sampai di kota Johannesburg.

Di sana aku mendatangi kantor penerima tamu milik Lembaga Muslim Afrika. Di rumah itu aku bertanya kepada pegawai penerima tamu tentang jamaah tersebut. Namun ia mengira bahwa aku seorang peminta-minta dan memberikan sejumlah uang. Aku katakan, “Bukan ini yang aku minta. Bukankah kalian mempunyai tempat ibadah yang dekat dari sini? Tolong tunjukkan masjid yang terdekat.” Lalu aku mengikuti arahannya dan aku terkejut ketika melihat seorang lelaki berpakaian dan bersorban putih sedang berdiri di depan pintu.

Aku sangat girang, karena ciri-cirinya sama seperti yang aku lihat dalam mimpi. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku mendekati orang tersebut. Sebelum aku mengatakan sepatah kata, ia terlebih dahulu berkata, “Selamat datang ya Ibrahim!” Aku terperanjat mendengarnya. Ia mengetahui namaku sebelum aku memperkenalkannya. Lantas ia melanjutkan ucapan-nya, “Aku melihatmu di dalam mimpi bahwa engkau sedang mencari-cari kami. Engkau hendak mencari kebenaran? Kebenaran ada pada agama yang diridhai Allah untuk hamba-Nya yaitu Islam.” Aku katakan, “Benar. Aku sedang mencari kebenaran yang telah ditunjukkan oleh lelaki bercahaya dalam mimpiku, agar aku mengikuti sekelompok orang yang berpakaian seperti busana yang engkau kenakan. Tahukah kamu siapa lelaki yang aku lihat dalam mimpiku itu?” Ia menjawab, “Dia adalah Nabi kami Muhammad, Nabi agama Islam yang benar, Rasulullah SAW.” Sulit bagiku untuk mempercayai apa yang terjadi pada diriku. Namun langsung saja aku peluk dia dan aku katakan kepadanya, “Benarkah lelaki itu Rasul dan Nabi kalian yang datang menunjukiku agama yang benar?” Ia berkata, “Benar.”

Ia lalu menyambut kedatanganku dan memberikan ucapan selamat karena Allah telah memberiku hidayah kebenaran. Kemudian datang waktu shalat zhuhur. Ia mempersilahkanku duduk di tempat paling belakang dalam masjid dan ia pergi untuk melaksanakan shalat bersama jamaah yang lain. Aku memperhatikan kaum muslimin banyak memakai pakaian seperti yang dipakainya. Aku melihat mereka rukuk dan sujud kepada Allah. Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, inilah agama yang benar. Aku telah membaca dalam berbagai kitab bahwa para nabi dan rasul meletakkan dahinya di atas tanah sujud kepada Allah.” Setelah mereka shalat, jiwaku mulai merasa tenang dengan fenomena yang aku lihat. Aku berucap dalam hati, “Demi Allah sesungguhnya Allah SAW telah menunjukkan kepadaku agama yang benar.” Seorang muslim memanggilku agar aku mengumumkan keislamanku. Lalu aku mengucapkan dua kalimat syahadat dan aku menangis sejadi-jadinya karena gembira telah mendapat hidayah dari Allah SWT.

Kemudian aku tinggal bersamanya untuk mempelajari Islam dan aku pergi bersama mereka untuk melakukan safari dakwah dalam waktu beberapa lama. Mereka mengunjungi semua tempat, mengajak manusia kepada agama Islam. Aku sangat gembira ikut bersama mereka. Aku dapat belajar shalat, puasa, tahajjud, doa, kejujuran dan amanah dari mereka. Aku juga belajar dari mereka bahwa seorang muslim diperintahkan untuk menyampaikan agama Allah dan bagaimana menjadi seorang muslim yang mengajak kepada jalan Allah serta berdakwah dengan hikmah, sabar, tenang, rela berkorban dan berwajah ceria.

Setelah beberapa bulan kemudian, aku kembali ke kotaku. Ternyata keluarga dan teman-temanku sedang mencari-cariku. Namun ketika melihat aku kembali memakai pakaian Islami, mereka mengingkarinya dan Dewan Gereja meminta kepadaku agar diadakan sidang darurat. Pada pertemuan itu mereka mencelaku karena aku telah meninggalkan agama keluarga dan nenek moyang kami. Mereka berkata kepadaku, “Sungguh kamu telah tersesat dan tertipu dengan agama orang Arab.” Aku katakan, “Tidak ada seorang pun yang telah menipu dan menyesatkanku. Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW datang kepadaku dalam mimpi untuk menunjukkan kebenaran dan agama yang benar yaitu agama Islam. Bukan agama orang Arab sebagaimana yang kalian katakan. Aku mengajak kalian kepada jalan yang benar dan memeluk Islam.” Mereka semua terdiam.

Kemudian mereka mencoba cara lain, yaitu membujukku dengan memberikan harta, kekuasaan dan pangkat. Mereka berkata, “Sesungguhnya Vatikan me-mintamu untuk tinggal bersama mereka selama enam bulan untuk menyerahkan uang panjar pembelian rumah dan mobil baru untukmu serta memberimu kenaikan gaji dan pangkat tertinggi di gereja.”

Semua tawaran tersebut aku tolak dan aku katakan kepada mereka, “Apakah kalian akan menyesatkanku setelah Allah memberiku hidayah? Demi Allah aku takkan pernah melakukannya walaupun kalian memenggal leherku.” Kemudian aku menasehati mereka dan kembali mengajak mereka ke agama Islam. Maka masuk Islamlah dua orang dari kalangan pendeta.

Alhamdulillah, Setelah melihat tekadku tersebut, mereka menarik semua derajat dan pangkatku. Aku merasa senang dengan itu semua, bahkan tadinya aku ingin agar penarikan itu segera dilakukan. Kemudian aku mengembalikan semua harta dan tugasku kepada mereka dan akupun pergi meninggalkan mereka,” Sily mengakhiri kisahnya.

Kisah masuk Islam Ibrahim Sily yang ia ceritakan sendiri kepadaku di kantorku, disaksikan oleh Abdul Khaliq sekretaris kantor Rabithah Afrika dan dua orang lainnya. Pendeta sily sekarang dipanggil dengan Da’i Ibrahim Sily berasal dari kabilah Kuza Afrika Selatan. Aku mengundang pendeta Ibrahim -maaf- Da’i Ibrahim Sily makan siang di rumahku dan aku laksanakan apa yang diwajibkan dalam agamaku yaitu memuliakannya, kemudian ia pun pamit. Setelah pertemuan itu aku pergi ke Makkah al-Mukarramah untuk melaksanakan suatu tugas. Waktu itu kami sudah mendekati persiapan seminar Ilmu Syar’i I yang akan diadakan di kota Cape Town. Lalu aku kembali ke Afrika Selatan tepatnya ke kota Cape Town.

Ketika aku berada di kantor yang telah disiapkan untuk kami di Ma’had Arqam, Dai Ibrahim Sily mendatangiku. Aku langsung mengenalnya dan aku ucapkan salam untuknya dan bertanya, “Apa yang kamu lakukan disini wahai Ibrahim.?” Ia menjawab, “Aku sedang mengunjungi tempat-tempat di Afrika Selatan untuk berdakwah kepada Allah. Aku ingin mengeluarkan masyarakat negeriku dari api neraka, mengeluarkan mereka dari jalan yang gelap ke jalan yang terang dengan memasukkan mereka ke dalam agama Islam.”

Setelah Ibrahim selesai mengisahkan kepada kami bahwa perhatiannya sekarang hanya tertumpah untuk dakwah kepada agama Allah, ia meninggalkan kami menuju suatu daerah… medan dakwah yang penuh dengan pengorbanan di jalan Allah. Aku perhatikan wajahnya berubah dan pakaiannya bersinar. Aku heran ia tidak meminta bantuan dan tidak menjulurkan tangannya meminta sumbangan. Aku merasakan ada yang mengalir di pipiku yang membangkitkan perasaan aneh. Perasaan ini seakan-akan berbicara kepadaku, “Kalian manusia yang mempermainkan dakwah, ti-dakkah kalian perhatikan para mujahid di jalan Allah!”

Benar wahai sudaraku. Kami telah tertinggal… kami berjalan lamban… kami telah tertipu dengan kehidupan dunia, sementara orang-orang yang seperti Da’i Ibrahim Sily, Da’i berbangsa Spanyol Ahmad Sa’id berkorban, berjihad dan bertempur demi menyampaikan agama ini. Ya Rabb rahmatilah kami. (Abu Mufti, Facebook).
(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN karya Muhammad Shalih al-Qaththani, seperti yang dinukilnya dari tulisan Dr. Abdul Aziz Ahmad Sarhan, Dekan fakultas Tarbiyah di Makkah al-Mukarramah, dengan sedikit perubahan. PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616.

Oh..... Bunda Dikau adalah Anugerah terindah yang Pernah Ada

Ringkih dan renta karena ditelan usia, namun tampak tegar dan bahagia. Ikhlas, memancarkan selaksa cinta penuh makna yang membias dari guratan keriput di wajah. Tiada yang berubah sejak saat dalam buaian, hingga sekarang mahkota putih tampak anggun menghiasinya. Dekapannya pun tak berubah, luruh memberikan kenyamanan dan kehangatan.
Jemari itu memang tak lagi lentik, namun selalu fasih menyulam kata pinta, membaluri sekujur tubuh dengan do’a-do’a. Kaki tampak payah, tak mampu menopang tubuhnya. Telapak tempat surga itu pun penuh bekas darah bernanah, simbol perjuangan menapak sulitnya kehidupan.
bunda, Anugerah Terindah Milik Kita


Ibunda…

Adakah saat ini kita terenyuh mengenangkannya? Ia adalah sebuah anugerah terindah yang dimiliki setiap manusia. Sejak dalam rahim, betapa cinta itu tak putus-putusnya mengalirkan kasih yang tak bertepi. Hingga kerelaan, keikhlasan dan kesabaran selama 9 bulan pun bagai menuai pahala seorang prajurit yang sedang berpuasa, namun tetap berperang di jalan ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.

Polesannya adalah warna dasar pada diri kita. Menggores sebuah kanvas putih nan suci, hingga tercipta lukisan Yahudi, Musyrik atau Nasrani. Namun, goresan yang diselimuti untaian ayat suci Al Qur’an, zikir, tasbih serta tahmid, tentu akan melahirkan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam) pada jiwa. Ibunda pun berharap tercipta jundullah (tentara ALLAH) dari sebuah madrasah keluarga.

Selaksa cinta ibunda yang dibaluri tsaqofah Islamiyah (wawasan keislaman) telah menyemai banyak pahlawan Islam. Teladan Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shidiq melahirkan pahlawan Abdullah bin Zubair, yang dengan cintanya masih berdoa agar dirinya tidak mati sebelum mengurus jenazah anaknya yang disalib Hajaj bin Yusuf, antek Bani Umaiyah. Polesan warna seorang ibunda, Al Khansa, melahirkan putra-putra kebanggaan Islam yang berani dan luhur akhlaqnya, hingga satu persatu syahid pada perang Qodisyiah. Di sela kesedihannya, ibunda masih berucap, “Alhamdulillah… ALLAH telah mengutamakan dan memberikan karunia padaku dengan kematian anak-anakku sebagai syuhada. Aku berharap semoga ALLAH mengumpulkan aku dengan mereka dalam rahmat-Nya kelak.”

Banyak… sungguh teramat banyak cinta ibunda yang melahirkan kisah-kisah teladan. Yatim seorang anak pun tidaklah menghalangi ibunda untuk merangkai sejarah dengan tinta emas, terbukti dengan mekar harumnya para mujtahid Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal serta Imam Bukhari. Didikan ibunda mereka telah mampu mendidiknya hingga menjadi anak-anak yang gemar menuntut ilmu tanpa kenal lelah, bahkan mandiri dalam kemiskinan.

Kita mungkin dilahirkan dari rahim seorang perempuan biasa. Bahkan kita pun tidak dilahirkan untuk menjadi seorang pahlawan. Namun, ibunda kita dan mereka adalah sama, sebuah anugerah terindah dari ALLAH Subhanahu wa Ta’ala.

Saat dewasa, tapak kaki telah kuat menjejak tanah dan tangan pun terkepal ke angkasa, masihkah selalu ingat ibunda? Cita-cita telah tergenggam di tangan, popularitas, kemewahan hingga dunia pun telah takluk menyerah kalah, tunduk karena ketekunan, jerih payah serta kerja keras tiada hentinya. Haruskah sombong dan angkuh hingga kata-kata menyakitkan begitu gampang terlontar?

Duhai jiwa, sekiranya engkau sadar bahwa tanpa do’a ibunda, niscaya semua masih angan-angan belaka.
Astaghfirullah… ampuni diri ini ya ALLAH.

Duhai ibunda…

Maafkan jika mata ini pernah sinis memandang, dan lidah yang pernah terucap kata makian hingga membuat luka hatimu. Maafkanlah pula kalau kesibukan menghalangi untaian do’a terhatur untukmu. Ampuni diri ananda yang tak pernah bisa membahagiakanmu, ibunda.

Sungguh, jiwa dan jasad ini ingin terbang ke angkasa lalu luruh di pangkuan, mendekap tubuh sepuh, serta menangis di pangkuanmu. Hingga terhapuskan kerinduan dalam riak anak-anak sungai di ujung mata. Rengkuhlah ananda dengan belai kasih sayangmu bagai masa kecil dulu. Mengenangkan indahnya setiap detik dalam rahimmu dan hangatnya dekapanmu. Buailah dengan do’a-do’a hingga ananda pun lelap tertidur di sampingmu.

Duhai ibunda…

Keindahan dunia tak akan tergantikan dengan keindahan dirimu.
Sorak-sorai pesona dunia pun tak dapat menggantikan gemuruh haru detak jantung saat engkau memelukku.
Indah… semua begitu indah dalam alunan cintamu, menelisik lembut, membasahi lorong hati dan jiwa yang rindu kasih sayangmu.

Duhai ibunda…

Bukakanlah pintu ridhamu, hingga ALLAH pun meridhaiku.
Wallahua’lam bi shawab

Sabtu, 20 Juli 2013

Van Doorn Berencana Membuat Film tentang Nabi Muhammad SAW & Islam

Muallaf mantan politisi Partai Kebebasan-Islamophobia-Belanda, Arnoud Van Doorn,  berencana untuk memproduksi sebuah film internasional tentang Nabi Muhammad shalalallahu 'alaihi wa sallam dan Islam.

Sheikh Abdulrahman As-Sudais, kepala Kepresidenan untuk Urusan Dua Masjid Suci, memberikan salinan Al-Qur'an kepada Arnoud Van Doorn di Makkah pada Ahad (21/4) disaksikan Shahzad Muhammad (kanan), kepala Asosiasi Dawa Kanada (CDA) - Okaz foto oleh Abdul Majeed Al-Dowaini


"Saya akan bekerja keras untuk melindungi hak-hak Muslim di semua negara Eropa serta untuk melayani Islam dan pengikutnya di seluruh dunia. Saya akan melakukan yang terbaik untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh saya pada Islam dan Nabi akibat film 'Fitna'," katanya.
  
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan harian Okaz /Saudi Gazette, Doorn mengatakan bahwa ia akan mengabdikan seluruh hidupnya secara penuh untuk menyebarkan pesan sejati Islam dan tentang kasih sayang, kemuliaan Rasulullah Muhammad shalalallahu 'alaihi wa sallam melalui promosi film di seluruh dunia.

Dalam wawancara itu, Doorn mengatakan bahwa ia menyesal pernah menjadi bagian dari sebuah film ofensif yang menghujat Islam. "Sekarang hal itu sudah menjadi bab tertutup dan saya benar-benar tidak ingin mengingat tentang hal itu. Film yang memicu reaksi luas itu merupakan langkah yang benar-benar salah di pihak kami karena mengandung banyak informasi yang menyesatkan dan tidak benar tentang agama ilahi mulia ini dan Nabi Muhammad shalalallahu 'alaihi wa sallam," ungkapnya, sembari menambahkan bahwa ia ingin melakukan beberapa pekerjaan perbaikan sehingga dapat meminimalkan kerusakan yang disebabkan oleh 'Fitna'.

Sabtu lalu, Doorn, mantan anggota terkemuka dari partai sayap kanan Belanda itu mengunjungi Masjid Nabawi di Madinah untuk berdoa dan menyatakan penyesalannya, memohon maaf karena dirinya menjadi bagian dari orang yang memproduksi film yang menghujat Islam (bersama petinggi partai Geert Wilders). 

Setelah mengunjungi Masjid Nabawi, ia tiba di Makkah hari Ahad untuk melakukan umrah. Sheikh Abdulrahman As-Sudais, kepala Kepresidenan untuk Urusan Dua Masjid Suci, dan pejabat kepresidenan lainnya menerima kunjungannya. 
  
Doorn mengatakan bahwa ia telah membuat keputusan untuk bekerjasama dengan CDA (Asosiasi Dakwah Kanada) yang berbasis di Toronto, untuk membuat film internasional yang bertujuan untuk menghapus keraguan, kesalahpahaman tentang Islam dan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam.

"Saya akan menggunakan semua pengalaman saya dalam memproduksi sebuah film alternatif, yang akan berbicara tentang citra Islam yang sebenarnya dan semua aspek dari kepribadian Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam serta kualitas beliau yang hebat."

Doorn sangat menyesal atas keterlibatannya dalam film yang menghujat Islam.

"Sangat disayangkan bahwa saya tidak melakukan upaya untuk mengetahui yang sebenarnya tentang agama Islam dan siapa Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam, sebelum menjadi membabi buta percaya pada kampanye misinformasi yang dilepaskan oleh pasukan anti-Islam. Ketika saya menyadari bahwa itu bukan Islam, saya memutuskan untuk belajar tentang agama ini dan yang mengarah ke konversi saya," ungkapnya. 

"Sekarang saya benar-benar menikmati keindahan Islam dan saya sangat bahagia atas rahmat Allah yang begitu besar yang membimbing saya ke jalan-Nya. Ini adalah pengalaman yang sangat nyata bagi saya," katanya seraya menambahkan bahwa mantan koleganya di Freedom Party sangat marah atas penerimaannya pada Islam. "Partai ini berdiri melawan Islam dan penyebarannya di Eropa. Beberapa dari mereka sekarang menganggap saya sebagai pengkhianat. "

Mengacu pada kunjungannya ke tanah suci, Doorn mengatakan: "Seandainya ada yang menyebutkan kepada saya tentang mengunjungi tanah dua masjid suci sebelumnya, saya akan menyebutnya gila."

"Tapi apa yang terjadi sekarang adalah realisasi mimpi dan terasa luar biasa bagi saya bahwa saya sekarang berada di kota suci yang menjadi tuan rumah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam."

"Saya tidak bisa mengendalikan perasaan saya ketika saya berdiri di depan makam Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, serta di Raudhah Syarif, dekat mimbar yang digunakan oleh Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam. Ketika saya berdoa di Raudhah Syarif, mata saya penuh air mata karena saya merasa bahwa saya sedang berada di taman Surga."

Doorn mengatakan bahwa ia kagum melihat intensitas cinta dan kasih sayang yang dimiliki umat Islam kepada Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam.

"Saya juga menyadari intensitas kebencian dari beberapa orang Barat terhadap Islam dan Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam dan itu tampaknya didasarkan pada ketidaktahuan dan prasangka mereka."

"Oleh karena itu, saya memutuskan untuk berusaha keras untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh film ofensif, yang diproduksi dengan motif tersembunyi untuk menciptakan hasutan di antara Muslim dan non-Muslim," katanya. Ia juga berjanji di depan makam Nabi Muhammadshalallahu 'alaihi wa sallam bahwa ia akan berusaha untuk menyebarkan pesan sejatinya dan kehebatan peran Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam dalam mempromosikan perdamaian dan hubungan yang harmonis antara orang-orang di seluruh dunia. 

Doorn berpesan bagi siapa saja yang menentang kembalinya dia pada Islam:"Biarkan saya memberitahu mereka bahwa ini adalah keputusan pribadi saya dan saya tidak akan menyerah dengan tekanan apapun atas kehidupan baru saya dalam Islam. Saya kebetulan melihat beberapa komentar di situs jejaring sosial, mengekspresikan perasaan antagonisme dan kebencian terhadap saya," katanya. Ia juga menambahkan bahwa semua ini muncul dari ketidaktahuan, penghinaan dan permusuhan terhadap Islam dan Muslim.

Doorn juga menyampaikan terima kasih kepada siapa saja yang mendukungnya untuk memulai hidup barunya sebagai seorang Muslim.


"Saya berterimakasih atas semua dukungan dan sumber daya yang kami terima untuk menyebarkan Islam di Belanda," tulisnya dalam twitter. [SG|Arr].